Jumat, 24 Juni 2011

Masalah Belajar Siswa

A. Problem-Problem Yang Dihadapi Siswa
Berkaitan dengan masalah atau problematika siswa, Singgih D. Gunawan (1978: 14) mengemukakan bahwa seorang siswa yang tidak belajar yang belum terbiasa dengan pembagian waktu untuk bermain dan belajar, tidak akan menimbulkan persoalan selama raportnya selalu baik dan hasil ulangannya selalu di atas rata–rata. Apabila pada suatu saat ia mendapatkan raportnya banyak nilai–nilai kurang, barulah terasa adanya suatu permasalahan yang dialami dari siswa tersebut.
Sedangkan M. Alisuf Sabri (1995: 88) mengemukakan bahwa dalam proses belajar mengajar di sekolah, baik ditingkat sekolah dasar, sekolah menengah maupun perguruan tinggi seringkali dijumpai ada beberapa siswa atau mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Dengan demikian masalah dalam belajar itu sudah merupakan problem umum yang khas dapat terjadi dalam system pengajaran secara pertikal dan ini sudah termasuk tugas guru untuk mengatasinya agar setiap siswa mampu memperoleh hasil belajar tuntuas sebagaimana yang diharapkan. Kesulitan belajar siswa disini harus diartikan sebagai kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran di sekolahan, yang terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang akan disampaikan oleh seorang guru.
Kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk dan dapat muncul dalam bentuk perilaku yang menyimpang atau menurunnya haisil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam berbagai bentuk seperti: suka mengganggu teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, hiperaktif, sering bolos dan sebagainya.
Menurunnya hasil belajar merupakan gejala kesulitan masalah siswa yang paling jelas. Menurunnya hasil belajar ini dapat dilihat dari rendahnya hasil latihan, baik latihan dikelas maupun pekerjaan rumah, dan menurunnya hasil ulangan harian / post test. Nilai–nilai rendah yang dicapai siswa inilah yang dapat dijadikan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

B. Faktor–Faktor Penyebab Siswa Bermasalah
Ada beberapa faktor yang menjadi sumber terjadinya masalah remaja sebagaimana yang diungkapkan oleh Sutarjo (1972: 2) yaitu :
1. Faktor intern yakni faktor yang bersumber dari diri remaja itu sendiri yaitu:
a. Rasa rendah diri karena cacat keturunan baik biologis maupun fsikis, dapat menimbulkan kompensasi dalam bentuk kenakalan.
b. Bawaan negatif yang sukar untuk dikendalikan.
c. Pemenuhan kebutuhan pokok yang tidak seimbang dengan keinginan remaja. Lemahnya kemampuan pengawasan diri sendiri serta sikap menilai terhadap keadaan–keadaan sekitarnya.
d. Kurang mampu mengadakan penyesuaian dengan lingkungan yang baik, sehingga mencari pelarian.
e. Tidak mempunyai kegemaran yang sehat.
2. Faktor ekstrim, yaitu yang mendorong timbulnya kenakalan remaja yang bersumber dari luar diri pribadi remaja, yaitu:
a. Kurang perhatian serta rasa cinta dari orang tua.
b. Kegagalan pendidikan pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
c. Pengawasan yang kurang dari para orang tua, guru masyarakat, dan pemerintah.
d. Kurangnya penghargaan terhadap pemuda oleh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
e. Kurangnya sarana dan prasarana.
f. Cara pendekatan yang tidak sesuai dengan perkembangan remaja oleh orang tua, guru, dan masyarakat.
Berdasarkan kedua faktor tersebut maka Alisut Satri (1995: 90) mengungkapkan bahwa penyebab timbulnya masalah atau kesulitan belajar siswa di sekolah selengkapnya dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Rendahnya kemampuan intelektual / kecerdasan anak.
2. Gangguan–gangguan perasaan / emosi.
3. Kurangnya motivasi dalam belajar.
4. Kurangnya kematangan untuk belajar.
5. Latar belakang sosial yang tidak menunjang.
6. Kebiasaan belajar yang kurang baik.
7. Kemampuan mengingat yang lemah / rendah.
8. Terganggunya alat indra.
9. Proses belajar mengajar tidak sesuai.
10. Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar.
Menurut Slameto (2003: 54), ada berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajr, tetapi yang secara garis besarnya dapat dibagi dalam dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal siswa.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri siswa yang berupa kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor internal terbagi menjadi tiga faktor, yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologi, dan faktor kelelahan.
a. Faktor Jasmaniah
1) Faktor Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya / bebas dari penyakit, kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar, seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.

2) Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan. Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, patah tangan, lumpuh dan lain-lain.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar siswa. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi kecacatannya itu.
b. Faktor Psikologis
1) Bakat
Menurut Sudirman, A.M (1996: 45), bakat adalah kemampuan seseorang untuk malakukan suatu kegiatan yang sudah ada sejak manusia itu ada. Jadi bakat itu merupakan suatu potensi atau kecakapan dasar yang dimiliki seseorang yang dibawa sejak lahir berupa keunggulan khusus dalam bidang tertentu.
Didalam belajar, seseorang akan mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang harus mempunyai sesuatu yang lain dari bakatnya, dia akan cepat bosan dan tidak senang. Sebaliknya, apabila seseorang mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakat dapat membuat ia betah mempelajari hal tersebut. Hal ini sejalan dengan pandapat S. Nasution (1995: 380) bahwa anak-anak yang berbakat khusus dapat dibimbing untuk penguasaan penuh atas bahan pelajaran.
Dengan melihat pendapat di atas dapat dikatakan bahwa faktor bakat turut menentukan keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran.
2) Minat
Minat adalah daya gerak yang mendorong kita tertarik pada orang atau kegiatan atau biasa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri (Abdur Rahman Abror, 1993: 112), jadi minat merupakan suatu perhatian atau kecenderungan terhadap sesuatu yang menjadi pendorong bagi seseorang untuk berprestasi terhadap sesuatu hal atau kegiatan.
Minat besar pengaruhnya terhadap pelajar, karena bila bahan pelajaran tidak menarik minat siswa, maka siswa akan mengenyampingkan bahan pelajaran tersebut. Sehingga ia tidak berhasil dalam belajar. Sebagaiman pendapat Sumadi Suryabrata (1984: 890), bahwa, seseorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu, tidak dapat diharapkan berhasil dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya, kalau seseorang mempelajari sesuatu dengan minatnya, maka ia akan memperoleh hasil yang baik karena ia akan tekun dan sungguh-sungguh dalam belajar.

3) Intelegensi
Yang dimaksud dengan intelegensi (kecerdasan) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan berfikir yang sifatnya rumit dan abstrak (Chaplin, 1972: 244).
Tingkat intelegensi manusia tidak sama, ada yang tinggi rendah dan sedang. Orang yang tingkat intelegensinya tinggi dapat mengolah gagasan yang abstrak, rumit, dan sulit dengan cepat tanpa kesulitan dibandingkan dengan orang yang tingkat intelegensinya sedang dan rendah.
Intelegensi merupakan suatu kemampuan yang dibawa dari lahir, pendidikan tidak meningkatnya tetapi hanya dapat mengembangkannya. Suatu kenyataan yang kita ingat adalah tingkat kecerdasan yang dimiliki seseorang bukanlah merupakan jaminan bahwa dia akan berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan baik karena keberhasilan dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh intelegensi saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor lain.
4) Motivasi
Menurut Neohi Nasution (1991: 9) bahwa, motivasi adalah kondisi psikologi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan menurut E.P. Hutabarat (1995: 25) motivasi adalah tenaga penggerak yang menimbulkan upaya keras untuk malakukan sesuatu.
Dengan demikian motivasi belajar dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar. Demi suksesnya belajar, motivasi belajar itu haruslah kuat Ardan N. Fransen (Sardiman A.M, 1996: 46) menyebutkan ada beberapa hal yang berkaitan mendorong seseorang untuk belajar. Dorongan tersebut adalah:
a). Adanya sifat ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.
b). Adanya sifat yang kreatif pada orang yang belajar dan adanya keinginan untuk maju.
c). Adanya keinginan untuk mendapat simpati orang tua, guru, dan teman-tamannya.
d). Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dan usaha yang baru, baik dengan kooperasi maupun kompetensi.
e). Adanya keinginan untuk memperbaiki rasa aman bila menguasai pelajaran.
f). Adanya hukuman dan ganjaran sebagai akhir dari pelajaran.
Dengan demikian motivasi merupakan faktor inner (batin) yang berfungsi menimbulkan, mendasari, dan mengarahkan perbuatan belajar semakin tinggi motivasi belajar, maka semakin giat seseorang belajar, sehingga materi pelajaran semakin dikuasai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar